Kenapa Bisnis Harus Beretika
Kenapa Bisnis Harus Beretika dan Bermartabat?
Mei 13, 2020
Pengertian Hard Selling Marketing Adalah
Mengenal Hard Selling Marketing Bekerja
Mei 14, 2020
Show all

Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Melakukan promosi dan penjualan merupakan kewajiban bagi setiap perusahaan yang menjual produk berupa barang atau jasa. Namun untuk bisa mendapatkan angka penjualan yang baik, dibutuhkan beragam teknik agar bisa menarik perhatian konsumen. Maka dari itu terciptalah dua cara penjualan yaitu soft selling dan hard selling. Sebenarnya apa perbedaan soft selling dan hard selling?

Pertanyaan di atas memang sering dilontarkan mengingat hingga detik ini, ada yang masih bingung terkait perbedaannya. Padahal ketika sudah dijalankan, maka terlihat jelas bagaimana membuat soft selling atau hard selling yang baik. Sebelum masuk ke dalam pembahasan utama, mari mengenal terlebih dahulu pengertian soft selling dan hard selling.

Soft Selling

Soft selling adalah cara penjualan yang dilakukan tanpa tingkat agresif yang tinggi. Promosinya terkesan ramah namun persuasif. Inilah yang nantinya bisa membuat konsumen mau melakukan pembelian. Memang sisi persuasif yang pelan tapi pasti menjadi inti dari penjualan soft selling itu sendiri.

Dengan soft selling, maka pihak konsumen akan merasa bahwa mereka tidak sedang ditawarkan sebuah produk. Namun pada akhirnya, mereka tahu bahwa produk tersebut menarik dan akhirnya memutuskan untuk membeli. Dengan cara yang pelan tapi pasti inilah yang membuat konsumen merasa lebih nyaman ketika ditawarkan produk.

Hard Selling

Hard selling marketing adalah cara penjualan yang langsung menuju kepada target konsumen yang sesuai dan langsung masuk kepada inti dari promosi tersebut. Cara pemasaran ini terlihat lebih lugas dan tanpa basa-basi saat sudah dilakukan.

Ketika sebuah perusahaan ingin segera menjual produk sebanyak mungkin tanpa perlu cara yang sulit, maka hard selling marketing adalah jawabannya. Memang ketika cara ini dilakukan, ada sebagian konsumen yang langsung memutuskan untuk membeli produk tersebut. Mereka sudah merasa produk tersebut memang layak untuk dibeli. Hard selling memang fokus untuk membuat konsumen membeli produk lalu selesai sampai di situ. Urusan jangka panjang lainnya memang tidak terlalu diperhitungkan di sini.

Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Dari penjelasan di atas, sebenarnya sudah terlihat bagaimana perbedaan soft selling dan hard selling. Ketika soft selling fokus untuk membuat konsumen mau membeli produk dengan cara persuasif, hard selling mencoba menawarkan produk dengan to the point agar bisa langsung membelinya.

Memang, untuk melakukan soft selling diperlukan persiapan yang lebih matang karena jika langsung menawarkan produk, maka itu sama saja hard selling. Dengan persiapan yang lebih harus dipikirkan  inilah yang membuat banyak perusahaan lebih suka hard selling. Mereka berpikir bahwa yang penting konsumen mau membeli produk tersebut hingga angka penjualan bisa langsung naik.

Namun soft selling memiliki keunggulan yang tidak dimiliki hard selling yaitu bisa membuat konsumen mau membeli produk tanpa merasa bahwa mereka sedang “dipaksa”. Dengan lebih mendekati konsumen melalui perasaan, maka hubungan jangka panjang dengan konsumen bisa lebih terjaga ketika sudah membeli produk tersebut. Untuk beberapa industri, soft selling memang lebih relevan untuk dilakukan dibandingkan dengan menggunakan hard selling.

Baca Juga: Mengenal Teknik Marketing Soft Selling

Baca Juga: Mengenal Hard Selling Marketing Bekerja

Sebenarnya untuk memilih soft selling atau hard selling, pilihan ada di tangan Anda. Itulah perbedaan di antara keduanya. Semoga informasi yang diberikan di artikel ini bisa memberikan manfaat sekaligus wawasan terbaru kepada Anda. Jangan lupa untuk memberikan komentar tentang artikel ini dan share artikel ini di media sosial Anda agar semakin banyak yang tahu informasi ini.

Timotius
Timotius
Hello, I'm Timo. Working in the media industry since 2014, I want to absorb more experience in this industry and provide the best for my profession as a Content Writer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *