Fenomena SEO: Disaat Konten Bersaing Dengan Title
Agustus 27, 2019
200 Faktor Ranking Google yang Perlu Anda Ketahui (Part 2)
September 5, 2019
Show all

200 Faktor Ranking Google yang Perlu Anda Ketahui (Part 1)

Seperti yang sudah kita ketahui, Google menggunakan lebih dari 200 faktor dalam algoritma mereka untuk me-ranking website…

Apa saja itu?

Dibawah ini adalah list yang komplit, beberapa sudah dibuktikan, beberapa lagi masih kontroversial. Sedangkan, sebagian lagi hanya spekulasi dari para penggiat SEO.

Berikut adalah list lengkapnya.

  • Domain Factors
  • Page-Level Factors
  • Site-Level Factors
  • Backlink Factors
  • User Interaction
  • Special Google Algorithm Rules
  • Brand Signals
  • On-Site Webspam Factors
  • Off-Site Webspam Factors

Domain Factors

  1. Usia Domain: Di video ini, Matt Cutts dari Google mengatakan bahwa:“Perbedaan antara domain yang berumur 6 bulan dengan yang 1 tahun tidak akan berbeda jauh”Dengan kata lain, Google mempertimbangkan usia dari domain… tapi itu bukan poin yang penting.
  2. Keyword yang Muncul di Top Level Domain: Hal ini tidak akan memberikan dorongan ranking yang seperti dulu, namun dengan memiliki keyword di domain akan berfungsi sebagai sinyal untuk relevansi anda di google.
  3. Keyword Sebagai Kata Pertama di Domain Anda: Domain yang target keyword-nya berada di awal, mempunyai keunggulan dari yang lain.
  4. Panjangnya Domain yang didaftarkan: Google patent menyakatakan:

        “Valuable Domains (Domain sah) akan dibayar beberapa tahun sebelumnya, sedangkan doorway domains (Domain ilegal) jarang digunakan            lebih dari 1 tahun. Oleh karena itu, tanggal dimana sebuah domain kadaluwarsa bisa digunakan sebagai faktor untuk memprediksi kesahan sebuah domain.”

 

  1. Keyword di Subdomain: Panel berpengalaman dari Moz setuju bahwa keyword yang muncul di subdomain dapat mendorong ranking.

sumber: backlinko.com

  1. Histori Domain: Situs yang memiiki sejarah kepemilikan yang buruk atau ranking yang sering jatuh akan membuat Google melakukan “reset” di histori situs, menolak link menuju domain, bahkan memberikan penalti ke domain. Penalti ini akan terbawa ke pemilik yang baru.

 

  1. Exact Match Domain: EMD akan memberikan anda sedikit keuntungan. Namun jika EMD anda adalah situs dengan kualitas yang rendah, maka itu akan sedikit berbahaya bagi anda ketika terjadi update kepada Google EMD.
  2. Public vs. Private WhoIs: Informasi WhoIs yang di privat menjadi sebuah tanda “ada sesuatu yang disembunyikan”.

Matt Cutts menyatakan:

“Ketika anda mengecek WhoIs mereka, terdapat pesan “WhoIs privacy protection service”. Itu sedikit tidak biasa… WhoIs yang privasi nya dihidupkan bukan berarti hal yang buruk, namun ketika seluruh faktor ini digabungkan, anda mungkin akan berfikir mereka adalah webmaster yang berbeda.”

 

  1. Pemilik WhoIs yang di Berikan Penalti: jika Google meng-identifikasi seseorang sebagai spammer, maka sangat jelas mengapa Google akan meneliti secara seksama situs lain yang dimiiliki orang tersebut.

 

  1. Country TLD Extension: Memiliki Country Code Top Level Domain (.cn, .pt, .ca) akan menolong ranking situs anda di negara tertentu, namun akan menjadi hambatan bagi situs anda untuk bisa ranking secara global.

 

Page-Level Factors

  1. Keyword di Judul Konten: Walaupun tidak sepenting dahulu kala, judul dari konten anda tetap penting sebagai sinyal on-page SEO.

sumber: backlinko.com

  1. Keyword di Awal Judul Konten: Menurut Moz, judul yang diawali dengan sebuah keyword cenderung memilliki peforma yang baik dibanding keyword yang di letakan menuju akhir judul.

 

  1. Keyword di Description Tag: Google tidak menggunakan description tag sebagai acuan untuk ranking secara langsung. Tapi description tag akan memberikan pengaruh kepada click-through-rate, yang mana adalah faktor utama untuk ranking.

 

  1. Keyword Muncul di Tag H1: Tag H1 adalah “Judul Kedua”. Bersamaan dengan judul, Google menggunakan H1 tag anda sebagai pemicu relevansi anda. Sesuai dengan studi di bawah ini:

sumber: backlinko.com

  1. TF-IDF: “Seberapa sering sebuah kata muncul di dokumen?” adalah penjelasan singkat dari TF-IDF. Semakin sering sebuah kata muncul di halaman tersebut, semakin jelas halaman tersebut mengenai kata-kata itu. Google menggunakan  versi canggih dari TF-IDF.

 

  1. Panjang Konten: Konten yang memiliki lebih banyak kata didalamnya akan lebih disukai oleh algoritma dibandingkan konten yang lebih pendek. Disalah satu studi mengenai faktor ranking menyatakan adanya korelasi antara panjang konten dengan posisi SERP.

 

  1. Table of Contents: Menggunakan daftar isi yang sudah di link akan menolong Google untuk mengerti konten anda. Ini juga akan membantu di sitelinks.

sumber: backlinko.com

  1. Keyword Density: Google mungkin akan menggunakan ini untuk menentukan topik dari sebuah website, namun Keyword Density sudah tidak sepenting seperti dulu, dan jika berlebihan ini akan membahayakan Anda.

 

  1. Latent Semantic Indexing Keyword di dalam Konten (LSI): LSI Keywords akan membantu search engine untuk menemukan makna dari kata-kata yang memiliki banyak makna. (contoh: Apple computer dan Apple sebagai buah). Kehadiran LSI akan berberan sebagai acuan kualitas konten.

 

  1. LSI Keyword di Judul dan Description Tags: Bersamaan dengan konten web, LSI keywords di dalam meta tags akan membantu Google membedakan kalimat dengan makna yang berbeda, juga menjadi acuan mengenai relevansi.

 

  1. Konten yang Berisi Topik Mendalam: Ada korelasi antara dalamnya topik yang dibahas dengan Google Rankings.

 

sumber: backlinko.com

  1. Kecepatan Loading Page via HTML: Google dan Bing menggunakan kecepatan loading sebuah Page sebagai faktor untuk Search Engine Spiders dapat menentukan kecepatan situs anda berdasarkan HTML code dengan cukup akurat.

 

  1. Kecepatan Loading page via Google Chrome: Google juga menggunakan data pengguna Chrome untuk mengukur kecepatan Loading page

 

  1. Penggunaan AMP: Walapun bukan faktor utama, AMP dibutuhkan agar dapat mendapatkan ranking di Google News Carousel versi mobile

 

  1. Entity Match: Apakah sebuah konten sesuai dengan “Entity yang dicari pengguna? Jika iya, page tersebut akan mendapatkan dorongan untuk mendapatkan ranking untuk keyword

 

  1. Google Hummingbird: Dengan perubahan “Alghoritma ini” membantu Google untuk dapat memahami konten sebuah website.

 

  1. Konten Duplikat: Konten yang terlalu identik satu sama lain (walaupun sedikit diubah) akan mempengaruhi visibilitas search engine secara negatif .

 

  1. Rel=Canonical: Jika digunakan dengan benar, penggunaan tag ini akan mencegah Google untuk memberikan penalti tentang konten duplikat.

 

  1. Optimisasi Gambar: Gambar akan memberikan sinyal ke search engine tentang relevansi melalui nama file, alt text, judul, deskripsi, dan caption.

 

  1. Konten Terbaru: Google Caffeine akan lebih memilih konten yang baru diterbitkan atau konten yang baru di-update terutama pencarian yang time-sensitive. Kepentingan akan faktor ini terlihat dari Google yang menunjukan waktu diamana konten tersebut diupdate.

  1. Besarnya Update suatu konten: Semakin signifikan perubahan suatu konten, akan memberikan faktor “fresh” pada suatu konten. Menambahkan atau menghilangkan suatu bagian dari konten, lebih penting dibanding memperbaiki sebuah typo.

 

  1. Page Update yang Historis: Seberapa sering page anda di update? Harian, mingguan, atau setiap 5 tahun? Faktor “fresh” sebuah situs juga dipengaruhi oleh intensitas update sebuah page.

 

  1. Keunggulan Sebuah Keyword: Menggunakan keyword pada 100 kata pertama dari sebuah konten memiliki korelasi dengan first page ranking di Google.

 

  1. Keyword di H2,H3 Tags: Memiliki keyword yang muncul di subhead dengan format H2 atau H3 kemungkinan akan memberikan sebuah sinyal relevansi yang lemah.

John Mueller dari Google menyatakan :

Seluruh heading tags di HTML akan membantu kita memahami sebuah struktur halaman.”

 

  1. Kualitas Outbound Link: Banyak penggiat SEO yang berfikir bahwa dengan menghubungkan website ke authority sites akan membantu untuk mengirimkan “tanda kepercayaan” kepada Google. Dan fakta ini didukung dengan studi terbaru.

 

  1. Tema dari Outbound Link: Menurut The Hillop Algorithm, Google menggunakan konten dari page yang anda link sebagai sinyal relevansi. Sebagai contoh, jika page anda mengenai mobil, dan page yang anda link mengenai film, maka Google akan berfikir bahwa page anda mengenai film Cars, bukan kendaraan.

 

  1. Grammar dan Spelling: Grammar (tatabahasa) dan Spelling (pengejaan) adalah sinyal relevansi yan berkualitas, walaupun ada perdebatan apakah hal ini penting atau tidak.

 

  1. Konten Mencurigakan: Apakah konten anda orisinil? Jika konten anda diambil atau di-copy dari page yang sudah index, maka konten anda tidak akan dikenali bahkan tidak mendapat ranking.

 

  1. Update yang Mobile-Friendly: Biasa disebut “Mobilegeddon”, update ini akan memberikan keuntungan kepada website yang sudah dioptimalkan untuk mobile devices.

 

  1. Mobile Usability: Website yang memudahakan pengguna mobile-nya akan unggul dalam Google “Mobile-first Index”.

 

  1. Konten Mobile yang “Tersembunyi”: Konten tersembunyi di mobile devices kemungkinan tidak akan di index dibanding konten yang terlihat. Namun Googler menyatakan bahwa konten tersembunyi tidak masalah, namun

“…jika konten tersebut penting, konten tersebut harus terlihat…”.

 

  1. Konten Tambahan” yang Bermanfaat: Menurut Google Rater Guidelines Document, konten tambahan yang bermanfaat adalah indikasi dari kualitas sebuah page dan Google ranking.

 

  1. Konten yang Bersembunyi Dibalik Tabs: Apakah user perlu mengklik suatu tab agar dapat melihat konten? Jika begitu, Google menyatakan bahwa konten tersebut kemungkinan tidak akan di index.

 

  1. Jumlah dari Outbound Links: Terlalu banyak Outbound Links akan menyakiti ranking page anda.

 

  1. Multimedia: Gambar, video, dan elemen multimedia yang lain dapat dijadikan acuan kualitas sebuah konten.

sumber: backlinko.com

  1. Jumlah Internal links yang Menuju ke Suatu Page: Jumlah internal links di suatu page mengindikasikan pentingnya page yang dituju oleh internal links

 

  1. Kualitas dari Internal links: Internal links dari domain yang memiliki ranking tinggi memiliki efek yang lebih baik dibanding page dengan ranking yang rendah.

 

  1. Link yang Rusak: Semakin banyak link yang rusak menandakan bahwa sebuah page telah diabaikan. Google Rater Guidelines Document, menggunakan link yang rusak sebagai cara untuk menilai kualitas suatu homepage.

 

  1. Reading Level: Sudah dapat dipastikan bahwa Google mengukur reading level dari suatu web pages. Faktanya, dulu Google memberikan reading level kepada web page.

sumber: backlinko.com

Namun informasi ini masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa basic reading level akan mebantu anda untuk mendapat ranking lebih baik.

 

  1. Affiliate Links: Link yang berafiliasi itu sendiri tidak akan menggagu ranking anda, namun jika terlalu banyak, algoritma Google akan memperhatikan faktor lain sebagai acuan untuk kualitas web page.

Masih banyak faktor-faktor lainnya yang bisa membantu Google ranking anda. Nantikan kelanjutannya di part 2!

Farhan Agassi
Farhan Agassi
I am Farhan Agassi, content writer at Toffeedev. technology enthusiast, and avid any kind of entertainment watcher.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *