Push and pull strategy marketing merupakan pendekatan pemasaran yang digunakan bisnis untuk menjangkau dan memengaruhi calon pelanggan melalui dua arah berbeda.
Strategi ini tidak hanya berbicara soal bagaimana produk diperkenalkan ke pasar, tetapi juga bagaimana minat calon pelanggan dibangun secara bertahap hingga mereka siap mengambil keputusan.
Kombinasi kedua strategi tersebut jelas penting dipahami agar tidak ada kekeliruan lagi yang terjadi. Pastikan Anda memahaminya kali ini dengan benar agar bisnis mengalami peningkatan yang signifikan!
Daftar Isi
ToggleKekeliruan yang Perlu Dihindari Saat Menggunakan Push dan Pull Strategy Marketing
Sebelum membahas penerapannya, Anda perlu memahami kesalahan umum yang sering terjadi saat menjalankan push and pull strategy marketing. Kekeliruan yang dimaksudkan seperti:
1. Menggunakan Push dan Pull Strategy Tanpa Tujuan yang Jelas
Banyak bisnis menjalankan aktivitas pemasaran tanpa menetapkan tujuan yang spesifik.
Kondisi ini membuat penerapan push dan pull strategy sering kali tidak terarah sejak awal. Akibatnya, push strategy dijalankan tanpa indikator keberhasilan, sementara pull strategy dibuat tanpa pemahaman jelas mengenai hasil yang ingin dicapai.
2. Terlalu Fokus pada Satu Pendekatan
Dalam praktiknya, beberapa bisnis hanya mengandalkan satu pendekatan pemasaran. Ketika push strategy dijalankan tanpa dukungan pull strategy, pesan promosi dapat terasa terlalu memaksa bagi audiens.
Sebaliknya, jika hanya mengandalkan pull strategy tanpa dorongan awal, maka bisnis akan kesulitan menjangkau audiens baru dalam waktu singkat.
3. Tidak Menyesuaikan Strategi dengan Tahap Customer Journey
Setiap calon pelanggan berada pada tahap yang berbeda dalam proses pengambilan keputusan.
Jika bisnis menyampaikan pesan yang sama kepada semua audiens, maka relevansi pesan menjadi berkurang. Tak heran kalau akibatnya minat calon pelanggan sulit dibangun secara bertahap sesuai kebutuhan mereka.
4. Tidak Menggunakan Data sebagai Dasar Evaluasi
Evaluasi strategi pemasaran membutuhkan data yang akurat. Tanpa data, bisnis tidak memiliki gambaran jelas mengenai respons audiens dan efektivitas strategi yang dijalankan.
Menurut McKinsey, pendekatan pemasaran berbasis data membantu bisnis memahami perilaku konsumen secara lebih mendalam dan mengambil keputusan yang lebih tepat.
Baca Juga: Strategi Marketing untuk Produk Baru: Siap Unggul di Persaingan
Push and Pull Strategy Marketing dalam Membangun Minat Calon Pelanggan
Push and pull strategy marketing berperan penting dalam membangun minat calon pelanggan, terutama pada tahap awal hingga pertimbangan. Ketika digunakan secara tepat, strategi ini membantu bisnis tetap relevan tanpa terasa memaksa.
1. Push Strategy untuk Menciptakan Paparan Awal
Push strategy berfungsi memperkenalkan brand kepada audiens yang belum mengenal bisnis Anda.
Pada tahap ini, tujuan utamanya ialah menciptakan paparan awal agar brand mulai terlihat. Dengan paparan yang tepat, calon pelanggan ikut mulai menyadari keberadaan produk atau layanan yang ditawarkan.
2. Pull Strategy untuk Menarik Audiens yang Sudah Tertarik
Setelah audiens mengenal brand, pull strategy berperan menjaga ketertarikan yang sudah terbentuk.
Pendekatan ini dilakukan dengan memberikan informasi yang relevan dan mudah dipahami. Dengan cara tersebut, rasa ingin tahu audiens dapat berkembang secara bertahap.
3. Menyesuaikan Pesan dengan Minat Audiens
Minat calon pelanggan berkembang seiring waktu dan kebutuhan. Oleh karena itu pesan dalam push dan pull strategy perlu disesuaikan dengan minat audiens pada setiap tahap. Penyesuaian ini membuat komunikasi brand terasa lebih relevan dan tepat sasaran.
4. Menggunakan Konten sebagai Penguat Pull Strategy
Konten menjadi elemen penting dalam memperkuat pull strategy. Alih-alih langsung mendorong penjualan, konten digunakan untuk memberikan nilai dan menjawab kebutuhan informasi audiens. Pendekatan ini membantu membangun kepercayaan terhadap brand.
5. Menjaga Konsistensi Pesan di Berbagai Channel
Minat calon pelanggan terbentuk melalui interaksi yang berulang di berbagai channel. Jika pesan yang disampaikan tidak konsisten, audiens dapat merasa bingung. Konsistensi pesan membantu membangun persepsi brand yang lebih kuat dan mudah dikenali.
6. Mengarahkan Minat ke Tahap Pertimbangan
Ketertarikan awal perlu diarahkan agar calon pelanggan tidak berhenti di satu titik. Pada tahap ini, bisnis perlu memberikan informasi yang lebih mendalam dan relevan. Tujuannya ialah membantu audiens mulai mempertimbangkan solusi yang ditawarkan.
7. Mengintegrasikan Push dan Pull dalam Satu Alur
Push dan pull strategy akan berjalan optimal ketika terintegrasi dalam satu alur yang jelas. Penggunaan push strategy membuka peluang interaksi awal, sementara pull strategy menjaga minat tetap terbangun.
Integrasi ini akan membuat perjalanan calon pelanggan (customer journey) terasa lebih terarah dan berkelanjutan.
Baca Juga: Strategi Aggressive Marketing yang Ampuh Meningkatkan Sales
Siap Menggunakan Strategi Marketing yang Lebih Terarah? Hubungi ToffeeDev Hari Ini!
Push and pull strategy marketing akan memberikan hasil optimal jika dirancang sesuai dengan tujuan bisnis dan perilaku audiens Anda.
Tanpa strategi yang terintegrasi, maka upaya pemasaran berisiko tidak membangun minat calon pelanggan secara efektif.
Dalam hal ini ToffeeDev siap membantu bisnis menyusun dan menjalankan strategi digital marketing yang menggabungkan push dan pull strategy secara terukur.
Dengan pendekatan berbasis data dan pemahaman customer journey, ToffeeDev memastikan setiap aktivitas pemasaran mendukung tujuan bisnis Anda.
Jika Anda ingin membangun minat calon pelanggan dengan strategi yang tepat dan relevan, langsung hubungi ToffeeDev sekarang juga!