Brand Switching : Pengertian, Faktor dan Cara Mencegahnya

Membangun loyalitas menjadi proses yang harus dijalani setiap perusahaan. Ketika tidak berhasil membangun hal ini dengan baik, akan timbul yang namanya brand switching. Keadaan dimana para pelanggan akan meninggalkan Anda dan beralih ke pesaing. Tentunya hal ini menjadi sebuah kerugian besar yang harus dihindari. Terutama dalam keadaan dimana semakin banyaknya merek dan produk yang diluncurkan setiap hari. Pada saat seperti ini, pelanggan akan memberikan perhatian yang sangat sedikit pada brand Anda. Menarik perhatian pelanggan dengan cepat, menjadi sebuah kewajiban. Brand switching adalah kondisi yang benar-benar ingin Anda hindari. Jika Anda tahu bagaimana mempertahankan para pelanggan, maka peluang untuk menurunkan biaya sambil mempertahankan atau meningkatkan keuntungan menjadi lebih tinggi. Ketahui berbagai faktor beserta cara mencegah para pelanggan beralih dari brand Anda.

Pengertian Brand Switching

Brand switching adalah situasi di mana merek kehilangan pelanggan yang loyal dan lebih memilih pesaing. Dengan kata lain, seorang pelanggan akan mengubah kebiasaan membeli mereka, memilih dengan sengaja untuk membeli merek lain daripada merek yang sudah biasa mereka pilih. Sebagai catatan tambahan, perlu diperhatikan bahwa hal ini tidak bisa disamakan dengan pelanggan yang agnostik merek. Pelanggan jenis ini memang teratur beralih di antara produk yang berbeda dalam kategori tertentu. Maka tidak ada ancaman kehilangan loyalitas karena mereka memang tidak memilikinya.

Jika Anda ingin sukses di dunia bisnis, maka brand switching adalah konsep penting yang harus diperhatikan dengan serius. Sudah diketahui secara luas bahwa mendapatkan pelanggan baru umumnya lebih mahal daripada menghabiskan uang untuk mempertahankan pelanggan lama Anda. Menghindari para pelanggan lama untuk berpindah merek akan bisa membantu dalam hal penghematan biaya dan juga tenaga. Budget akan bisa lebih difokuskan dalam mendapatkan pelanggan baru atau pengembangan lainnya.

Faktor Brand Switching

Brand switching adalah kebalikan dari brand loyalty. Artinya, klien berhenti membeli dari suatu perusahaan dan memilih merek lain dengan produk serupa. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini. Beberapa diantaranya yang bisa Anda pelajari adalah sebagai berikut ini.

1. Ketidakcocokan Antara Harga Dan Nilai yang Ditawarkan

Salah satu hal pertama yang harus Anda sadari adalah bahwa konsumen akan selalu memiliki afinitas dengan brand atau merek. Afinitas merek adalah “kecintaan” konsumen terhadap merek tertentu. 

Perlu diingat bahwa setiap konsumen akan memiliki tingkat kesukaan yang berbeda-beda terhadap suatu merek. Ada orang di luar sana yang akan membayar jumlah uang dalam jumlah yang luar biasa sehingga mereka bisa mendapatkan pilihan mereka. Namun, yang lain tidak terlalu memiliki keinginan yang spesifik tentang merek tersebut. Tetapi akan tetap memilih merek yang disukai selama perbedaan harganya tidak terlalu besar. Konsumen akan selalu memilih merek pilihan mereka sampai titik tertentu. Namun, faktor yang paling membatasi adalah harga. 

Cara sederhana untuk melihatnya adalah pelanggan Anda akan lebih memilih merek Anda dan bahkan akan membayar bahkan jika itu lebih tinggi dari pesaing. Namun, jika mark-up terlalu tinggi, maka mereka akan beralih.

Poin paling penting di sini adalah nilai. Orang membayar bukan untuk produk saja, tetapi untuk nilai yang bisa mereka dapatkan. Klien ingin melihat apa yang membuat perbedaan antara produk Anda yang lebih mahal dengan para pesaing. Pastikan Anda dapat mengkomunikasikan hal ini kepada audiens Anda.

Baca Juga: 7 Alasan Untuk Membangun Brand Identity Dengan SEO

2. Layanan yang Buruk

Layanan yang buruk bukan berarti hanya staf yang tidak ramah. Tetapi juga cara mereka menangani pelanggan yang tidak puas dan berbagai hal lainnya. Seandainya para konsumen menerima barang cacat atau pakaian dengan ukuran yang salah. Orang yang bertanggung jawab atas pertukaran barang dan pengembalian uang memiliki peranan yang penting. Apabila Anda proaktif, hal ini akan bisa membuat mereka bahagia. Namun, jika Anda lebih memilih berdebat dengan pelanggan, bersiaplah untuk kehilangan satu pelanggan. Jangan lupakan waktu yang dibutuhkan tim customer service untuk menangani klien. Semakin lama membuat pelanggan menunggu, semakin cepat mereka akan berganti merek.

3. Brand Fatigue

Brand fatigue adalah fenomena di mana pelanggan bosan dengan merek Anda. Dalam kebanyakan kasus, alasan kelelahan ini adalah paparan yang berlebihan. Terlalu sering berjumpa dengan suatu brand akan menimbulkan kebosanan. Sebagian besar bisnis dimulai dengan beberapa barang atau jasa berkinerja tinggi. Saat mereka meraih kesuksesan, keuntungan pun didapatkan. Kemudian, perusahaan tetap memilih untuk memasarkan produk yang sudah sukses tersebut. 

Dari sudut pandang pelanggan, mereka mulai lelah dengan bombardir terus-menerus terhadap merek Anda yang tidak memiliki inovasi. Akibatnya, pelanggan beralih ke merek yang terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi klien mereka. Persaingan membuat merek berkembang dan meningkat.

Jasa SEO

4. Keinginan untuk Menjangkau Berbagai Niche

Serupa dengan brand fatigue, hal yang satu ini membuat para pelanggan harus berjumpa dengan brand Anda. Perusahaan yang memasuki hampir setiap pasar akan bisa memberikan dampak yang negatif. Hal ini berarti perusahaan harus membagi fokus. Membuat setiap usaha yang dilakukan tidak maksimal karena fokus yang terbagi-bagi. Akan lebih baik fokus pada satu niche. Pelanggan juga akan bisa merasa lelah jika harus bertemu dengan brand Anda, tapi tidak ada inovasi lebih yang dilakukan untuk mereka.

Mencegah Brand Switching

Ada beberapa tips yang bisa diikuti untuk bisa mencegah hal yang satu ini terjadi pada Anda. Mengikuti tips ini akan membantu dalam membangun loyalitas pelanggan.

1. Pastikan Dengan Jelas Posisi Unik Anda. 

Unique value proposition (UVP) adalah apa yang membuat merek menonjol di antara para pesaing. Ini akan membantu untuk meyakinkan klien bahwa produk Anda adalah keputusan terbaik. Identifikasi pain point dan kebutuhan klien Anda. Berikan produk yang akan menyelesaikan masalah ini lebih baik daripada pesaing. Bersiaplah untuk menjelaskan keuntungan ketika kenaikan harga terjadi. Mengungkapkan nilai yang akan mereka terima.

Baca Juga: Strategi Social Media Marketing 2021 yang Perlu Diketahui

2. Customer Retention

Hal ini memungkinkan merek untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi, meningkatkan volume penjualan, mengumpulkan informasi tentang pelanggan, dan membangun hubungan jangka panjang. 

3. Komunikasi yang Personal

Pendekatan secara individual menjadi hal yang penting saat ini. Lakukan segmentasi untuk membuat kelompok klien dengan kebutuhan dan preferensi yang sama. Ini akan membantu Anda membuat penawaran yang dipersonalisasi untuk mereka dan memberikan pengalaman pelanggan terbaik. 

Baca Juga: 5 Macam Strategi Branding Produk dengan Digital Marketing

4. Bangun Tim Customer Support yang Baik

Mencari orang handal yang bertanggung jawab atas resolusi konflik adalah sebuah kewajiban. Tim Anda harus kompak, saling membantu, dan proaktif. 

5. Menerima Kritikan

Melalui kritikan, Anda akan bisa membangun brand secara lebih baik. Entah itu kritikan yang membangun atau kritikan negatif. Temukan berbagai solusi dari ketidak puasan pelanggan Anda.

Perkuat juga branding Anda melalui kegiatan digital marketing yang merupakan kewajiban di masa sekarang. Melalui hal ini, Anda akan bisa membangun online presence yang baik. Membantu dalam kegiatan pengenalan merek. Konsultasikan sekarang juga bersama Digital Marketing Agency ToffeeDev. Kami siap membantu Anda ke level selanjutnya.

Share This Article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Comments

Step bye step SEO

Related Post

WhatsApp chat