Pengaruh Thin Content Pada SEO dan Cara Memperbaikinya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Share This Article

Dalam melakukan strategi SEO untuk meningkatkan website bisnis, ada hal yang perlu diperhatikan dan harus dihindari dalam pembuatan sebuah konten yaitu thin content. Thin content dapat menjadi penghambat dalam meningkatkan ranking website pada Google. Hal ini dikarenakan thin content merupakan sebuah konten yang tidak memiliki makna yang jelas atau tidak berguna bagi para user. Dengan demikian, ketika Google menemukan thin content pada sebuah website, maka website tersebut akan mendapatkan score yang rendah sehingga tentu saja sangat sulit untuk memunculkan website tersebut pada halaman pertama Google.

Baca Juga : 5 Faktor yang Mempengaruhi Ranking Google Search

Lantas, bagaimana cara mengetahui apakah website Anda memiliki thin content di dalamnya? Dan bagaimana cara memperbaiki thin content tersebut agar Google dapat memberikan score yang tinggi bagi website Anda? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Ciri-ciri Thin Content

Berikut ini, ada 5 ciri dari thin content yang perlu Anda ketahui serta bagaimana cara memperbaikinya, yaitu:

1. Isi Konten yang Terlalu Sedikit

Sebuah konten setidaknya memiliki panjang kata minimal 250 kata atau jika Anda membuat sebuah konten artikel SEO, maka idealnya konten tersebut harus memuat minimal 500 kata. Dengan demikian, jika konten yang ada di dalam website Anda memiliki panjang kata di bawah dari batas minimal seperti yang telah ditetapkan oleh Google, konten tersebut dapat masuk ke dalam thin contentJasa SEO

2. Konten Merupakan Hasil Plagiat

Google sangat menolak hasil konten yang diplagiat alias konten copy-paste. Apapun hasil plagiatnya mulai dari hasil copy paste mentah-mentah dari artikel dengan tema dan keyword konten yang serupa, mengambil konten dari berita, hingga menerjemahkan konten dari bahasa lain juga termasuk ke dalam plagiat. Namun, bagaimana jika tema, keyword, hingga isi konten memang terlihat mirip dengan artikel lainnya dikarenakan banyak website yang mengangkat topik sedemikian rupa untuk meningkatkan ranking website tanpa bermaksud untuk melakukan plagiarisme?

Dalam membuat sebuah konten, apabila Anda mengambil sumber dari artikel-artikel tertentu, maka pastikan untuk menata ulang kembali kalimat atau melakukan editing. Selain itu, jika konten tersebut bersifat ilmiah atau sesuatu yang harus disalin secara mentah-mentah seperti hukum perundang-undangan, maka Anda dapat mencantumkan sumber dari mana isi konten tersebut diambil. 

Baca Juga : Apa itu Konten Plagiat Dalam Strategi SEO?

3. Penggunaan Affiliate Link yang Tidak Relevan

Dalam beberapa konten artikel SEO, biasanya terdapat penggunaan affiliate link yang bertujuan untuk meningkatkan page lainnya dalam satu website tersebut atau menghubungkannya dengan website lain untuk membantu meningkatkan traffic page pada link yang dituju. Namun, Google tidak akan menerima apabila affiliate link yang digunakan tidak relevan dengan isi konten yang sedang dibahas saat itu.

Agar dapat memperbaiki hal ini, Anda harus memperhatikan lagi affiliate link yang akan ditambahkan dalam sebuah konten artikel SEO untuk menghindari penalti yang diberikan dari Google. Pastikan affiliate link tersebut relevan dengan isi konten yang dibahas serta berguna untuk para pembaca yang mengunjungi page website Anda. 

4. Menggunakan Doorway Page

Ciri terakhir dari thin content adalah penggunaan keyword atau key phrase yang mirip-mirip dalam jumlah yang banyak untuk meningkatkan ranking dari sebuah keyword. Hal ini dapat dianggap sebagai doorway page dan tentu saja akan masuk ke dalam thin content. Oleh karena itu, dalam membuat sebuah konten, pastikan tujuan awalnya adalah untuk menyediakan informasi yang berguna bagi user sehingga dengan demikian, traffic atau ranking website Anda akan mendapatkan score yang tinggi dari Google dan Google akan menempatkan website tersebut pada halaman pertamanya. Konten yang dibuat hanya demi meningkatkan ranking dan traffic tentu akan memberikan hasil yang buruk tidak hanya bagi konten itu sendiri, namun untuk keseluruhan website.

Baca Juga : Keyword Ranking Based SEO atau Traffic Based SEO, Pilih Mana?

Gunakan Jasa SEO yang Baik untuk Mengatasi Thin Content

Jadi, sekarang Anda sudah memahami apa itu thin content, bukan? Jika Anda ingin melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap konten yang ada di website untuk menemukan apakah terdapat thin content yang membuat website tersebut tidak dapat muncul pada halaman pertama Google, silakan buat perjanjian konsultasi sekarang juga dengan ToffeeDev  yang merupakan Digital Marketing Agency dalam bidang SEO dan website terbaik di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Comments

Related Post